abu Nawir
Maret 22, 2009
Disimpan dalam Uncategorized
Tag: cerita rakyat dari Sumatera Barat
Setelah sedemikian lama menanggung sakit , meninggallah bagindo ali, kini tinggal isterinya Putri Bunga Durian beserta dua anaknya. Kedua anak itu laki-laki, yang tua Abu Nawar dan yang muda Abu Nawir. Kini kelaurga itu betul tidak punya laki-laki kecuali kedua anak itu. Dulu mamaknya yang meninggal, sekarang ayahnya. Kalau ditahan terus dirumah, masih akan semakin buruk, sedangkan dia masih muda-muda. Inilah yang menyebabkan mereka teringat hendak pergi merantau.
Yang pertma berpikir demikian adalah Abu Nawar. Berkata ia pada adiknya,
“Coba kau dengat, kin yang tinggal hanya Ibu sendiri. Kita tidak bias menggantungkan nasib padanya, ia sudah tua dan lemah. Malah kita harus menyenangkan hidupnya dihari-hari tua ini. Dari pada berputih mata tinggal dikampung ini, bagaimana kalau kita pergimerantau?”
Abu Nawirmenjawab, “Aku setuju , tapi aku tidak tahu kemana atau mau kerja apa, aku serahkan saja pada kakak”.
“Kita pergi ke Jambi, mari kita minta izin kepada Ibu”. Ucap Abu Nawar. Dan akhirnya mereka sepakat untuk pergi.
Mereka membicarakan itu pada ibunya persis sesudah tujuh hari ayahnya meninggal.
“ Mande, semenjak bapak meninggal, rasayan tidak ada lagi tempat mengadu. Izinkanlah kami pergimerantau ke tanah Jambi. Mdah-mudahan berubah nasih kita”.
Ibunya menjawab. “ Kalu itu niat kalian, aku tidak mengizinkan sebelum kalian berumah tangga, ak n ada yang mengikat kalian untuk memikirkan kami yang tinggal”.
“ Bagaimana kami bias kawin jika kami belum berpenghasilan”. Jawab Abu Nawar.
Si Ibu tertegun sejenak, kemudian berkata. “ Kalu benar pula, aku tidak bias menolaknya. Namun satu yang jadi pikiranku. Jambi adalah rantau yang sangat jauh, banyak gunung yang harus didaki dan lurah yang harus dituruni. Sebanyak yang saying sebanyak itu pula yang benci pada kita. Bagaimana kalu dibekali terlebih dahulu dari kalian”.
“ Kalau demikian , aku turut kata ibu”. Jawab Abu Nawar.
Berkata pula Ibunya, “kalian tahu, semenjak dahulunya kita adalah orang terpandang. Mamakmu bernama Pendekar Punai, adalah rang termasyur. Ia meninggal akibat berelahi dengan Sutan Amirullah karena memperebutkan anak gadis sutan Lenggeng Alam. Perkelahian mereka tidak berkesudahan. Kemudian ia diracun oleh Amirullah. Seketika ia tahu, dibalasnya dengan gayung urat, sehingga seklian bulu menanggung sakit dan sekalian pori-pori mengeluarkan darah. Sekrang mamakmu itu telah berbaring di Gunung Lesung. Jadi sebelum merntau, pergilah terdahulu kesana. Mudah-mudahan turun segala kepandaian mamakmu itu. Demikianlah pesan kusampaikan kepada kalian ”.
Mendengar keterangan ibunya itu, tersentak kedua anak itu, dan meminta diri untuk segera pergi.
Dengan dibekali sekedarnya oleh sang Ibu. Kedua kakak adik itu berangkat menuju gunung Lesung di pagi buta. Mereka hendak bertaa dikuburan mamaknya. Tiga harai lamanya mereka berjalan barulah mereka samapi ketempat yang mereka tuju. Dari jauh telah tampak kuburan tua. Bunga kamboja sudah amat tinggi. Nampak pula sebuah sebuah batu nisan yang cukup tinggi. Mereka mendekati tempat itu. Tiba-tiba mereka melotot, dan mereka kaget, batu nisan tersebut dililiti oleh uar naga yang sangat besar, dan merekapun menghentikan langkah.
Dengan mamandang tajam pada sang uar naga, Abu Nawar berpikir-pikir dalam hati, “bagaimana bias bertarak pada nisan yang berpenghuni tiu. Ular naga itu tampanya siap untuk menyerang. Bertarak disna berarti mati”. Setelah lama hanyut dengan pikira masing-masing, berkata Abu Nawar apada adiknya.
“ Tidak mungkin rasanya meneruskan niat kita. Kalau tidak dituntut betul ilmu itu, toh belum tentu kita akan mati. Mari kita pulang saja”. Mendengar itu Abu nawir sang adik mengeluh. Dipikirnya memang betul pula kta kakaknya. Sebaliknya ia merasa malu untuk surut sebelum pergi. Dengan tenang dijawabnya kata kakaknya.
“Bagaimanapun, saya memutuskan untuk tidak kembali, kembalilah kakak sendirian, saya akan tinggal disini. Saya ingin mencoba, kalau mati apa boleh buat, esa hilang, dua terbilang. Ucp aBu Nawir.
Payah Abu Nawar melunakkan hati adiknya, tapi tidak berhasil. Lalu iapun telah tetap dengan hatinya, “Kalau demikian keras hatimu, akupun sudah tidak bias mencegahnya, aku akan segera kembali pulang”. Pada masa itu Abu Nawa diliputi rasa takut yang sangat, badan serasa baying-bayang, serasa telah didlilit ular besar. Iapun bergegas pulang. Tiga hari dalam perjalanan, akhirnya ia sampai dirumah. Wajahnya telah tidak segeh dan kumal. Dengan nafas sesak ia berkata pada Ibunya yang juga kaget. “Dia telah ditelan naga besar, hatinya tidak bisa dilunaki untuk dibawa pulang. Hilang akal denai dibuatnya. Tapi tidak apalah denai toh masih selamt, masi ada”. Si Ibupun terkulai karena sedih, tapi apa hendak dikata. Mereka menjalani nasib masing-masing.
Adapun Abu Nawir yang tinggal sendirian, akibant letihnya, ia menyandarkan diri pada banir kayu besar. Daun kayu disana-berjabat, sehingga dibawah lindungannya. Hari telah berangsur senaj. Abu Nawirpun tertidur. Rupanya, dalam tidur itu ia bermimpi, ia didatangi laki-laki tua berjenggot terjulai ketanah, orang tua itu berkata “ Naga itu adalah ujian untuk menuntut ilmu, tabahlah selama disini, jika enggau benar-benar ingin mendapatkan ilmu, ilmu itu akan didapat secra berangsur-rangsur ; bukan diperdapat kita ingat. Aku akan dating tiap malam”. Mimpi Abu Nawir berakhir, dan iapun terbangun, tiba-tiba seekor harimau melompat didekatnya. Ia terkejut dan pucat. Dia membuang pandangan kesekitar, ternyata masih gelap gulita, yang terdengar hanyalah bunyi kala dan lipan, dan bunyi sikekeh burung hantu. Bulu tekuknya semakin berdiri. Rasanya tidak akan sanggup ia terus berada disana seperti yang diisyaratkan siorangtua itu. Tapi sebaliknya, langkah telah terlanjur dilangkahkan, pantang pula untuk berbalik surut. Iapun memicingkan mata, dan iapun tertidur. Tidak berapa lama kemudian berkicaulah murai, haripun pagi. Barulah hatiny agak tentram.
Adapun kerja Abu Nawir sehari-hari adalah, kalau hari siang ia mencari makan : urat batang ataupun buah-buahan. Kalau malam haria orangtua itupun datang mengajarinya segala ilmu dan kepandaian . demikianlah kerjanya sehari-hari.
Telah lebih satu bulan Abu Nawir berada disana , dimana ia telah perdapat segala ilmu yang ia perlukan. Akhirnya pengajaran itu diputusi. Mula-mula ia uji dengan jin da Pari. Kemudian dengan harimau. Akhirnya dengan ular nagayang melilit nisan mamaknya itu. Pada waktu itu malam sedang pekat sekali. Gurnya tegak menyaksikan , iapun berkelahi dengan naga itu. Hempas-mengempas, rasanya perkelahian tidak berkesudahan. Akhirnya ia mencoba segala ilmu yang ia pelajari samapi penghabisan. Dapat ditangkapanya ekor ular itu, dansernatak darang mercik dari bawah seluruh sisik ; ularpun tergeletak mati. Selesailah pertempuran si Abu Nawir. Sela itu juga diadakan perpisahan dengan sang gur. Guru itu pergi , dan dia saat itu pula harimau dari rusuknya mengarah ke rimba, lalu hilang dikegelapan malam.
Paginya ia hendak berangkat kearah pulang. Hari ke tiga iapun samapi dikampung halamannya. Dari jauh, dari bukit tempat ia memandang tampaklah orang ramai-ramai di depan rumahnya. Ia heran memikirkan apa yang terjadi gerangan. Lalu ia bertangan pada orangtua yang sedang asyik membenahi kebun sayurnya, tentang apa yang sedang terjadi. Orangtua itu berkata.
“Menurut kabarnya, disana ada dua orang bersaudara, mereka pergi ke kuburan mamaknya digunung lesung yang keramat itu untuk menuntut ilmu. Malang tak dapat ditolak, meninggalalah adiknya dimakan ular naga. Kini orang-orang disana meng-empat puluharikan kematian anak itu. Demikianlah berita yang ku dengar”. Ucap si oratua
“Oh…begiti, terima kasih pak…,” jawab Abu Nawir.
Abu Nawirpun undur diri, pelan-pelan sambil berpikir juga tantang bagaimana sebaiknya. Kemudian ia berkata sendiri.
Kerantau memandang di hulu
Berbuah berbunga belum
Sebelum berumpun banyak
Merantau bujang dahulu
Dirumah berguna belum
Daripada menyusahkan orang banyak
Diputuskannyalah tidak jadi pulang. Ia pergi merantau meneruskan niatnya semula. Ia akan pergi merantau menruskan niatnya semula. Ia akan ke negeri jambi walu apapun yang akan terjadi. Iapun berangkat.
Dituruninya sungai kea rah ke udik. Setelah lama bejalan, sampailah ditempat yang bernama Serampas. Disana, disebuah pesawangan, ia dihadang oleh tiga penyamun. Sorang dari mereka berkata
“ untuk kamu ketahui, kami ini pendekar tidur, pendekar duduk, dan pendekar tegak adalah penguasa disini. Tidak ada keras yang kami takik, lunak yang kami sudu. Daripada berpanjang-panjang, kalau saying pada nyawa serahkan segala harta yang ada.”
Mendengar hal demikan termenunglah Abu Nawir , kemudian ia berkata . “ Tuan yang tiga orang, tidak usah diulang kata seperti itu sampai dua kali merinding bulu romaku. Saya kesini tidak mencari lawan.”
Menghardik penyamun itu, “jangan banyak bicara, serahkan semuanya”. Perkelahianpun tidak bisa dielakkkan. Mula-mula pendekar duduk . mereka berkelahi hempas menghempas dengan sanga sengitnya. Akhirnya dapat ditangkap oleh Abu Nawir lalu dihempaskannnya ke batu. Kepalanya hancur, tergeletak seketika lalu mati. Demikian pula dengan pendekar tidur. Ia dapat digayung oleh Abu Nawir ; segala bulunya berdiri, muka dan tubuhnya hitam, kemudian jatuh tergeletak. Tinggal lagi pendekar Tegak. Melihat keganasan tangan Abu Nawir, ia berkata, “
Tuan Muda, aku jangan dibunuh, digantung aku tinggi, dibuang aku jauh”. Mendengar pengakuan pendekar itu, timbllah kasihan Abu Nawir, alu ia berkata :
“Kalau kau betul-betul keluar dari hati kecilmu demikian, baiklah kita akhiri sampai disini. Mari kita pergi utnuk mencari penghidupan yang layak, dan hingga kini untuk dimasa yang akan dating kita berkawan.”
Kemudian Pendekar Tegak menjawab. “Aku terima dengan sangat senag hati.”
Keduanya sepakat untuk meneruskan perjalanan arah ke Jambi. Setelah berjalan beberapa alama dalam perjalan, merekapun memasuki daerah Jambi. Disebuah rumah, mereka bertanya pada seorang laki-laki setengah tua.
“Bapak, adakah disini ada orang tukang irit kayu atau tukang takik getah? Kami dating dari lubuk panjang, datang kesini hendak mencari kerja.” Ucap Abu Nawir sopan.
“Cobalah kau pergi ke desa Bendeng Tujuh